Kamis, 02 Februari 2017

novel romance (lanjutan)


Apparently, I Love You #part 3

Lima belas menit berlalu, akhirnya kami sampai di kampus. Saat itu aku merasa ada hal yang aneh. Entah hanya perasaanku saja atau ada sesuatu yang lain. Tapi yang pasti aku gelisah.

“Apakah kau akan baik –baik saja?“ Tanya Riana setelah keluar dari mobil.

“Aku akan mencoba untuk baik–baik saja.“ jawabku.

“Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan mereka berdua nanti“ tanyana sambil mendekatkan wajahnya.

“I don’t know“

“Okey. Kau harus segera memikirkanya.”

“I know. But…”

“William“ belum selesai aku menjawab pertanyaan Riana, Noi memanggilku.

“Noi?!“ aku terkejut.

“Tumben kalian datang siang banget?” Tanya Noi.

Aku terdiam, aku tidak tahu harus bagaimana, harus bicara apa. Aku menoleh pada Riana, berharap mendapat jawaban darinya. Namun Riana sama sekali tidak melihat kami berdua. Dia hanya terus memandangi buku yang sudah sejak tadi dia pegang. Dia tambah menyebalkan. Perasaanku bercampur aduk. Amarah, sedih, bingung, kecewa menjadi satu di otakku.

“Em, Aku kemarin malam menginap di rumah Riana, lalu tadi aku bangun kesiangan.“

“Menginap di rumah Riana? kok bisa? “Tanya Noi dengan eksresi terkejutnya.

“Emb, Will. Aku ke kelas dulu“ Sahut Riana.

“Ah iya…“ Jawabku.

“Dah Riana“ Teriak Noi pada Riana.

“Aku juga mau ke kelas“ Kataku.

“Tunggu, ada apa sih? Hari ini kamu dingin banget deh sama aku. Kamu nggak say hai seperti biasanya, kamu terlihat aneh loh“ Tanya Noi sambil menarik lenganku.

Aku melepaskan tangannya “Tidak ada apa-apa“ Aku langsung meninggalkannya tanpa melihat wajahnya.

“William?! “Noi berteriak memanggilku.

Sesaat setelah aku pergi Roy dating menghampiri Noi.

“Ada apa Noi?“ Tanya Roy.

“Entahlah“ Jawab Noi sambil menggelengkan kepalanya.

Aku berlari mengejar Riana yang sedang menuju kelas. Aku memanggilnya berkali–kali, tapi dia nampak acuh tak acuh.

“Riana wait!!“ aku menarik lengannya.

“Ada apa sih?!“ responnya cuek sepert biasanya.

“Kenapa kamu cuek gitu sih? Aku dari tadi memanggilmu.“

“Benarkah?“ Riana melepaskan tanganku“ Apa kau tidak lihat aku sedang pakai earphone?”

“What?!” aku baru menyadarinya.

“Benda sebesar ini kau tidak bisa melihatnya?“

“Sorry…” aku malu padanya.

“Okey. Ada apa?”

“Kenapa kau tadi meninggalkanku begitu saja?“

“Terus aku harus gimana?”

“Ya, seharusnya tadi kamu membantuku menjawab pertanyaan Noi“

“Haahh“ Riana mendekatiku. Seperti biasa dia memukul kepalaku dengan pensilnya. “Apa aku harus membantumu? Apa aku harus bilang padanya kalau kau sudah tahu semua? “Riana memukul kepalaku sekali lagi. “Berapa usiamu sekarang? Itu masalahmu. Kau sudah dewasa untuk bisa mengatasi masalahmu sendiri. Lagi pula kau itu laki- laki, kau tidak perlu menghindarinya, katakan yang sebenarnya. Selesaikan masalahmu.“

Setelah mengatakan semua itu, Riana pergi meninggalkanku. Sedangkan aku hanya bisa tertunduk. Dia benar, aku seharusnya bias menyelesaikan masalahku sendiri, aku seharsnya tidak menghindari masalah, tidak seharusnya aku menjadi pengecut. Tapi….

“APA YANG HARUS AKU LAKUKAN ??!!!!!“ tanpa sadar aku berteriak di lorong kelas.

PLAK !!!

Tiba – tiba ada tangan yang mendarat di kepalaku. Aku menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya, beliau adalah dosen kelasku hari ini.

“Apa-apaan kau ini ?! Jam segini sudah bikin keributan!“

“Maaf pak, saya sungguh- sungguh minta maaf “ kataku sambil menundukkan kepala.

“Dasar kau ini! Jangan diulangi lagi!“

“Baik pak…“

Pak Henry meninggalkanku yang masih menundukkan kepala. Aku benar-benar menyesal karena membuat masalah dengan beliau. Beliau salah satu dosen killer di kampusku. Tapi, walaupun beliau dosen paling killer, ternyata beliau adalah dosen paling perhatian sama mahasiswanya.

Eh, STOP !!! kenapa aku malah menceritakan tentang Pak Henry. Kita kembali ke benang merah.

Setelah mata kuliah selesai, aku pergi ke taman untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan. Jujur, aku belum pernah mendapat masalah yang begitu memusingkan kepalaku. Setelah merenung aku akhirnya memutuskan sesuatu, yang mungkin sulit aku terima.

“Kapan sayang?“ Tanya Noi.

“Nanti sore di café night, jam tujuh“ jawabku.

“Okey, kamu jemputkan?”

“Maaf Noi, aku tidak bisa.“

“Ha?“

“Maaf“

“Baiklah…“

Aku mematikan handphoneku sebelum Noi selesai bicara. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar suaranya.

Selama perjalanan menuju café, aku terus memikirkan apa yang akan terjadi saat bertemu Noi. Apakah aku bisa menyelesaikannya atau aku akan kalah dengannya. Jika aku kalah, maka aku benar- benar seorang pengecut.

Setelah sampai di café, aku memilih tempat duduk di paling ujung dan dekat dengan jendela. Sepuluh menit sudah aku menunggunya. Sampai…

BIP! BIP! BIP!

Handponeku berbunyi, siapa yang mengirim pesan? apakan Noi? apa mungkin dia tidak datang? aku terus bertanya dalam benakku. Tapi ternyata…

“FIGHTING !! YOU CAN DO IT“

Riana menyemangatiku melalui sms. Setelah membaca sms itu, aku menjadi yakin bahwa aku bisa menyelesaikan ini semua. Aku bukan pengecut. Akan aku buktikan pada Riana, bahwa aku bukanlah laki-laki yang lemah.

“Oh. Wiliam. I’m sorry. Tadi aku ada kendala di rumah dan..”

“Sudahlah… duduklah” aku memotong pembicaraannya.

“Okey…” kata Noi sambil duduk di kursi tepat di depanku.

“Aku hanya butuh sedikit waktu, jadi jangan khawatir.”

Suasana saat itu menjadi sangat canggung. Atau mungkin hany aku yang merasa canggung.

“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?”

“Ada sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting. Tapi harus segera diselesaikan. “aku berhenti bicara untuk meminum coffe yang aku pesan tadi. “Apa kau ingat tempat apa ini? khususnya tempat duduk ini?“

“Maksud kamu? Kitakan baru pertama kali pergi bersama disini kan?”

“Kita? Aku tidak bicara tentang kita. But, you“ kataku sambil menunjuknya dengan sendok yang aku gunakan untuk mengaduk coffe.

“Aku? Aku nggak paham deh, sayang” kata Noi sambil mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku, Noi terkejut dengan sikapku. “Noi, aku akan jelaskan padamu. Lebih tepatnya mengingatkanmu tentang tempat ini“

Noi menatapku penuh keheranan. Sebelum aku mulai bicara, aku mengbiskan coffe dan jus yang aku pesan.

“ Kau tau awalnya aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.”

“ap..”

“ssssttt. Diamlah dan biarkan aku bicara. “aku berdiri dekat jendela dan melanjutkan ceritaku. “Aku melihat seorang gadis cantik yang mengenakan gaun merah dengan lipstik merah yang menggoda. Dia duduk di tempat kita duduk sekarang, dengan seorang pria. Dia…”

“Will..” Noi mencoba menyelaku.

“ssstt” aku mengehentikannya.

“And du you know? dia bersama seorang pria yang begitu tidak asing bagiku. Awalnya aku mengira.. pria itu hanya sekedar teman biasa. Tapi ternyataaa lebih dari itu, saling bergandeng tangan, bahkan pria itu mencium tangan gadis berbaju merah itu. Kau tahu setelah melihat itu hatiku begitu sakit rasanya. Yah meskipun aku bisa menahannya“

Noi sedikit terkejut mendengarnya “Sebernarnya yang kamu bicarakan itu siapa sih sayang ? Kamu punya masalah dengan seseorang ya?“ Tanya Noi.

“Kamu belum ngerti apa yag dari tadi aku bicarakan? Atau jangan-jangan kamu pura-pura nggak ngerti dengan apa yang aku bicarakan dari tadi?“ Aku bertanya sambil memainkan gelas.

“Maksud kamu apa sih sayang?” Noi mencoba meraih tanganku.

“Stop! “ aku menampis tangannya. Noi terlihat heran dengan sikapku.

“Jangan terus-terusan sok manis di depanku Noi… kamu pikir aku nggak tau, setelah kita mengerjakan tugas di rumah Riana, kamu dan Roy ngapain aja. Kalian berdua pergi ke café ini, tepat dibangku ini dan kamu lagi memakai baju apa. Apa kamu pikir aku orang bodoh yang selalu bias kamu bohongi? begitu?“

Noi semakin terkejut mendengar semua yang aku katakan. Dari wajahnya terlihat dia sangat bingung dengan situasi ini.









WAAHHH Maaf readers updatenya lama banget... :'( banyak tugas. saya akan usahakan update lebih sering dari sekarang.
NB: Maaf apabila tata bahasanya masih gak jelas... mohon dimaklumi hehehe :)