Kamis, 02 Februari 2017

novel romance (lanjutan)


Apparently, I Love You #part 3

Lima belas menit berlalu, akhirnya kami sampai di kampus. Saat itu aku merasa ada hal yang aneh. Entah hanya perasaanku saja atau ada sesuatu yang lain. Tapi yang pasti aku gelisah.

“Apakah kau akan baik –baik saja?“ Tanya Riana setelah keluar dari mobil.

“Aku akan mencoba untuk baik–baik saja.“ jawabku.

“Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan mereka berdua nanti“ tanyana sambil mendekatkan wajahnya.

“I don’t know“

“Okey. Kau harus segera memikirkanya.”

“I know. But…”

“William“ belum selesai aku menjawab pertanyaan Riana, Noi memanggilku.

“Noi?!“ aku terkejut.

“Tumben kalian datang siang banget?” Tanya Noi.

Aku terdiam, aku tidak tahu harus bagaimana, harus bicara apa. Aku menoleh pada Riana, berharap mendapat jawaban darinya. Namun Riana sama sekali tidak melihat kami berdua. Dia hanya terus memandangi buku yang sudah sejak tadi dia pegang. Dia tambah menyebalkan. Perasaanku bercampur aduk. Amarah, sedih, bingung, kecewa menjadi satu di otakku.

“Em, Aku kemarin malam menginap di rumah Riana, lalu tadi aku bangun kesiangan.“

“Menginap di rumah Riana? kok bisa? “Tanya Noi dengan eksresi terkejutnya.

“Emb, Will. Aku ke kelas dulu“ Sahut Riana.

“Ah iya…“ Jawabku.

“Dah Riana“ Teriak Noi pada Riana.

“Aku juga mau ke kelas“ Kataku.

“Tunggu, ada apa sih? Hari ini kamu dingin banget deh sama aku. Kamu nggak say hai seperti biasanya, kamu terlihat aneh loh“ Tanya Noi sambil menarik lenganku.

Aku melepaskan tangannya “Tidak ada apa-apa“ Aku langsung meninggalkannya tanpa melihat wajahnya.

“William?! “Noi berteriak memanggilku.

Sesaat setelah aku pergi Roy dating menghampiri Noi.

“Ada apa Noi?“ Tanya Roy.

“Entahlah“ Jawab Noi sambil menggelengkan kepalanya.

Aku berlari mengejar Riana yang sedang menuju kelas. Aku memanggilnya berkali–kali, tapi dia nampak acuh tak acuh.

“Riana wait!!“ aku menarik lengannya.

“Ada apa sih?!“ responnya cuek sepert biasanya.

“Kenapa kamu cuek gitu sih? Aku dari tadi memanggilmu.“

“Benarkah?“ Riana melepaskan tanganku“ Apa kau tidak lihat aku sedang pakai earphone?”

“What?!” aku baru menyadarinya.

“Benda sebesar ini kau tidak bisa melihatnya?“

“Sorry…” aku malu padanya.

“Okey. Ada apa?”

“Kenapa kau tadi meninggalkanku begitu saja?“

“Terus aku harus gimana?”

“Ya, seharusnya tadi kamu membantuku menjawab pertanyaan Noi“

“Haahh“ Riana mendekatiku. Seperti biasa dia memukul kepalaku dengan pensilnya. “Apa aku harus membantumu? Apa aku harus bilang padanya kalau kau sudah tahu semua? “Riana memukul kepalaku sekali lagi. “Berapa usiamu sekarang? Itu masalahmu. Kau sudah dewasa untuk bisa mengatasi masalahmu sendiri. Lagi pula kau itu laki- laki, kau tidak perlu menghindarinya, katakan yang sebenarnya. Selesaikan masalahmu.“

Setelah mengatakan semua itu, Riana pergi meninggalkanku. Sedangkan aku hanya bisa tertunduk. Dia benar, aku seharusnya bias menyelesaikan masalahku sendiri, aku seharsnya tidak menghindari masalah, tidak seharusnya aku menjadi pengecut. Tapi….

“APA YANG HARUS AKU LAKUKAN ??!!!!!“ tanpa sadar aku berteriak di lorong kelas.

PLAK !!!

Tiba – tiba ada tangan yang mendarat di kepalaku. Aku menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya, beliau adalah dosen kelasku hari ini.

“Apa-apaan kau ini ?! Jam segini sudah bikin keributan!“

“Maaf pak, saya sungguh- sungguh minta maaf “ kataku sambil menundukkan kepala.

“Dasar kau ini! Jangan diulangi lagi!“

“Baik pak…“

Pak Henry meninggalkanku yang masih menundukkan kepala. Aku benar-benar menyesal karena membuat masalah dengan beliau. Beliau salah satu dosen killer di kampusku. Tapi, walaupun beliau dosen paling killer, ternyata beliau adalah dosen paling perhatian sama mahasiswanya.

Eh, STOP !!! kenapa aku malah menceritakan tentang Pak Henry. Kita kembali ke benang merah.

Setelah mata kuliah selesai, aku pergi ke taman untuk memikirkan apa yang harus aku lakukan. Jujur, aku belum pernah mendapat masalah yang begitu memusingkan kepalaku. Setelah merenung aku akhirnya memutuskan sesuatu, yang mungkin sulit aku terima.

“Kapan sayang?“ Tanya Noi.

“Nanti sore di café night, jam tujuh“ jawabku.

“Okey, kamu jemputkan?”

“Maaf Noi, aku tidak bisa.“

“Ha?“

“Maaf“

“Baiklah…“

Aku mematikan handphoneku sebelum Noi selesai bicara. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar suaranya.

Selama perjalanan menuju café, aku terus memikirkan apa yang akan terjadi saat bertemu Noi. Apakah aku bisa menyelesaikannya atau aku akan kalah dengannya. Jika aku kalah, maka aku benar- benar seorang pengecut.

Setelah sampai di café, aku memilih tempat duduk di paling ujung dan dekat dengan jendela. Sepuluh menit sudah aku menunggunya. Sampai…

BIP! BIP! BIP!

Handponeku berbunyi, siapa yang mengirim pesan? apakan Noi? apa mungkin dia tidak datang? aku terus bertanya dalam benakku. Tapi ternyata…

“FIGHTING !! YOU CAN DO IT“

Riana menyemangatiku melalui sms. Setelah membaca sms itu, aku menjadi yakin bahwa aku bisa menyelesaikan ini semua. Aku bukan pengecut. Akan aku buktikan pada Riana, bahwa aku bukanlah laki-laki yang lemah.

“Oh. Wiliam. I’m sorry. Tadi aku ada kendala di rumah dan..”

“Sudahlah… duduklah” aku memotong pembicaraannya.

“Okey…” kata Noi sambil duduk di kursi tepat di depanku.

“Aku hanya butuh sedikit waktu, jadi jangan khawatir.”

Suasana saat itu menjadi sangat canggung. Atau mungkin hany aku yang merasa canggung.

“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?”

“Ada sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting. Tapi harus segera diselesaikan. “aku berhenti bicara untuk meminum coffe yang aku pesan tadi. “Apa kau ingat tempat apa ini? khususnya tempat duduk ini?“

“Maksud kamu? Kitakan baru pertama kali pergi bersama disini kan?”

“Kita? Aku tidak bicara tentang kita. But, you“ kataku sambil menunjuknya dengan sendok yang aku gunakan untuk mengaduk coffe.

“Aku? Aku nggak paham deh, sayang” kata Noi sambil mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku, Noi terkejut dengan sikapku. “Noi, aku akan jelaskan padamu. Lebih tepatnya mengingatkanmu tentang tempat ini“

Noi menatapku penuh keheranan. Sebelum aku mulai bicara, aku mengbiskan coffe dan jus yang aku pesan.

“ Kau tau awalnya aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.”

“ap..”

“ssssttt. Diamlah dan biarkan aku bicara. “aku berdiri dekat jendela dan melanjutkan ceritaku. “Aku melihat seorang gadis cantik yang mengenakan gaun merah dengan lipstik merah yang menggoda. Dia duduk di tempat kita duduk sekarang, dengan seorang pria. Dia…”

“Will..” Noi mencoba menyelaku.

“ssstt” aku mengehentikannya.

“And du you know? dia bersama seorang pria yang begitu tidak asing bagiku. Awalnya aku mengira.. pria itu hanya sekedar teman biasa. Tapi ternyataaa lebih dari itu, saling bergandeng tangan, bahkan pria itu mencium tangan gadis berbaju merah itu. Kau tahu setelah melihat itu hatiku begitu sakit rasanya. Yah meskipun aku bisa menahannya“

Noi sedikit terkejut mendengarnya “Sebernarnya yang kamu bicarakan itu siapa sih sayang ? Kamu punya masalah dengan seseorang ya?“ Tanya Noi.

“Kamu belum ngerti apa yag dari tadi aku bicarakan? Atau jangan-jangan kamu pura-pura nggak ngerti dengan apa yang aku bicarakan dari tadi?“ Aku bertanya sambil memainkan gelas.

“Maksud kamu apa sih sayang?” Noi mencoba meraih tanganku.

“Stop! “ aku menampis tangannya. Noi terlihat heran dengan sikapku.

“Jangan terus-terusan sok manis di depanku Noi… kamu pikir aku nggak tau, setelah kita mengerjakan tugas di rumah Riana, kamu dan Roy ngapain aja. Kalian berdua pergi ke café ini, tepat dibangku ini dan kamu lagi memakai baju apa. Apa kamu pikir aku orang bodoh yang selalu bias kamu bohongi? begitu?“

Noi semakin terkejut mendengar semua yang aku katakan. Dari wajahnya terlihat dia sangat bingung dengan situasi ini.









WAAHHH Maaf readers updatenya lama banget... :'( banyak tugas. saya akan usahakan update lebih sering dari sekarang.
NB: Maaf apabila tata bahasanya masih gak jelas... mohon dimaklumi hehehe :)

Sabtu, 28 Mei 2016

novel romance (lanjutan)

Apparently, I Love You #part 2

“ Cobalah dulu, nanti kalau kau sudah menemukan jawabannya, segera telpon aku. Oke?”
Belum sempat aku bertanya lagi, Riana meninggalkanku di luar rumahnya. Aku sungguh dibuat bingung oleh kata-kata Riana. Aku semakin penasaran. What’s wrong with my best friend?, pertanyaan itu yang mulai menekanku.
Aku mulai mengikuti mobil Roy yang sebenarnya sudah agak jauh di depanku. Aku berusaha untuk bisa mendekatinya dan mengikutinya. Dan akhirya mobil Roy berhenti di sebuah café. Aku mulai bertanya – tanya, apa yang mereka lakukan di sini.
Mulai timbul kecurigaan di benakku saat Roy keluar dan membukakan pintu mobil untuk Noi, di tambah Roy yang memegang tangan Noi dan menciumnya. Tapi kecurigaan itu aku tangkis begitu saja karena aku tahu Roy memang genit.
Aku terus mengikuti mereka sampai mereka duduk di tempat duduk dekat jendela. Aku memperhatikan semua percakapan mereka. Dan sampai…
“ Sampai kapan kita akan seperti ini terus sayang? aku sudah tidak sabar lagi ingin menyentuhmu dengan leluasa.”
“ Kamu sabar dulu lah. Sebentar lagi aku udah akan berhasil mendapatkan mobil dari William. Sabar ya?”
Mobil? Apa maksudnya. Aku semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Riana apa yang sebenarnya terjadi? Aku mulai dibuat gelisah dengan pertanyaan–pertanyaanku sendiri.
“ Begitu ya?” kata Roy sambil mencium tangan Noi.
“ Setelah aku berhasil, aku akan segera mencari alasan untuk putus dengan William dan kau juga harus segera putus dengan wanita itu.” jawab Noi sambil membelai rambut Roy.
Mendengar itu semua tubuhku serasa disambar petir. Rasanya semua bercampur aduk di dalam hatiku. Apa maksudnya? benarkah semua yang aku dengar? atau mereka hanya latihan drama? meraka kan sama–sama dari teater? apakah mungkin wanita yang selama ini aku cintai menghianatiku dengan begitu kejam? apakah mungkin sahabatku yang selama ini aku percaya, juga tega menusukku dari belakang? pertanyaan demi pertanyaan tidak henti–hentinya berputar di kepalaku.
Aku keluar dari tempat itu dengan tubuh lemas. Aku mengendarai mobilku menuju taman dekat rumah Riana. Aku masih tidak percaya dengan semua yang terjadi tadi. Di satu sisi aku merasa dihianati tapi disisi lain aku menyangkal semua yang terjadi.
Sampai di taman aku ingat kata–kata yang diucapkan Riana. Aku meraih handphone-ku dan mencoba untuk menghubungi Riana.
“ Hallo, Riana. Aku ada di taman. Bisakah kau ke sini?”
Riana menutup telfonnya tanpa mengatakan apapun. Mungkin dia sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan.
Tak lama Riana pun datang, dia berhenti tepat didepanku. Dia tidak berkata apa–apa dan hanya menghela nafas panjang. Sedang aku mulai meneteskan air mata. Melihatku seperti itu Riana mendekatiku dan memelukku. Bukannya malah diam saat di pelukannya, aku malah benar–benar menangis. Ya, menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
“ Apakah kau juga sesakit ini saat mengetahui semua ini?” tanyaku masih dalam pelukan Riana.
“ Hem” jawabnya tenang.
“ Bagaimana kamu bisa sekuat ini?” tanyaku dan tangisku semakin menjadi.
“ Karena dia bukan satu–satunya lelaki di dunia ini.”
“ And, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?”
“ Karena aku tau, kau tidak akan percaya padaku. Dan hal ini adalah hal penting yang harus kamu ketahui sendiri.”
Hampir satu jam aku menangis dalam pelukannya seperti anak kecil. Aku tidak sadar bahwa aku sangat memalukan saat itu. Selamaaku menangis Riana sama sekali tidak berkomentar, dia terus menemaniku sampai aku berhenti menangis.
Malam itu pun aku menginap di rumah Riana. Ibu Riana mengijinkanku menginap tanpa mengatakan sepatah katapun. Mungkin beliau sudah tau apa yang terjadi padaku. Bagaimana mungkin tidak, semua orang juga pasti tahu apa yang terjadi jika melihat wajahku yang sembab. Memalukannya.
“ Kau sudah bangun?” Tanya Riana padaku.
“Ah, Iya” jawabku sambil menuruni tangga.
“ Eh, nak William. Sudah bangun? sarapan yuk?” ajak ibu Riana padaku.
“ Iya, tante. Terimakasih. Maaf merepotkan.” jawabku sambil duduk.
“ Nggak merepotkan kok. Biasa saja.” jawab Riana.
“ Apakah nak Will sudah baikan?” Tanya ibu Riana padaku.
“ Iya tante, saya sudah agak baikan. Em, Riana, apakah kau nanti kuliah?”
“ Em…” jawab Riana sambil menganggukan kepala.
“ Kita barengan saja ya?” aku berusaha merayu.
“ Tidak mau. Dari kemarin saja kau belum ganti baju. Baumu sungguh mengganggu.”
“ Jangan begitu, Riana. Bagaimana kalau nak William pakai baju milik ayah Riana?” tanya ibu Riana.
“ Tidak usah tante, terima kasih. Di mobil ada baju kok”
“ Owh , ya sudah kalau begitu.” Ibu Riana melanjutkan makannya.
“ Iya tante”
“ Bu, jangan meminjamkan baju ayah ke dia,,,”
Aku bingung dengan pernyataan Riana.
“ memangnya kenapa Na?” Tanya ibu riana.
“ Dia itu jorok bu, nanti kalau dia nangis lagi, terus baju ayah buat usap, gimana?”
“ what???!!!” aku spontan.
“ riana nggak boleh gitu… hahaha” Ibu Riana tertawa.
Riana tidak menjawab pernyataan dari ibunya, dia hanya tersenyum dan melanjutkan sarapannya.
“ Aku baru tahu, kalau kamu cewek yang menyebalkan. Huh “ kataku sambil membuang muka
“ Baru tahu ya… kasian…”
“Hahaha” kami bertiga tertawa
Setelah menghabiskan sarapan, aku berangkat kuliah dengan Riana. Saat berada dalam mobil, tidak ada satupun dari kami yang mengeluarkan sepatah katapun. Aku masih memikirkan kejadian malam itu. Sedangkan Riana, entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang ku tahu dia memang lebih suka diam saat di dalam mobil.
Lima belas menit berlalu, akhirnya kami sampai di kampus. Saat itu aku merasa ada hal yang aneh. Entah hanya perasaanku saja atau ada sesuatu yang lain. Tapi yang pasti aku gelisah.
“ Apakah kau akan baik–baik saja?” Tanya Riana setelah keluar dari mobil.
“ Aku akan mencoba untuk baik–baik saja.” jawabku.
“ Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan mereka berdua nanti?“ Tanya Riana sambil mendekatkan wajahnya.
“ I don’t know.”
“ Okey. Kau harus segera memikirkanya.”
“ I know. But…”
“ William” belum selesai aku menjawab pertanyaan Riana, Noi memanggilku.
“ Noi?!” aku terkejut.



wah... cerita belum selesai kawan, mau tau kelanjutannya...??? ikuti terus novel Apparently, I Love You hanya di sini

Kamis, 26 Mei 2016

novel romance

Apparently, I Love You

Sebenarnya kisah ini sudah terlalu lama unuk diceritakan. Kisah yang berawal dari hubungan pertemanan yang….. ya bisa dikatakan membingungkan, rumitlah…
“ Hai, Roy?!” aku berjalan menuju meja, di mana sahabatku Roy dan Riana duduk.
“Hei, bro!” jawab Roy.
“ Riana, apa kabar?” Noi pacarku menyapa Riana, pacar Roy
“ Kok nggak cipika cipiki sama aku juga? selalu sama Riana aja” kata Roy sambil memasang wajah cemberut. Sahabatku Roy memang sedikit genit.
“ Kamu mau ? sini aku cium pipi kamu.” Jawab Noi sambil mendekatkan wajahnya pada Roy.
Aku sempat dag dig dug saat itu. Tapi ternyata Noi bukan mencium pipi Roy, melainkan membelokkan bibir merahnya ke pipiku. Aku terkejut sekali juga senang sekali.
“ Kau ini, selalu saja.” kata Riana pada Roy.
Riana beda dengan pacarku. Dia pendiam, tenang, dan tidak marah sama sekali meski Roy, pacarnya bersikap genit pada gadis-gadis lain.
“ Riana, kenapa kamu tenang – tenang saja saat pacarmu ini genit pada cewek lain. You have to angry with him.” kataku sambil melempar kacang pada Roy.
“ No, I can’t. Aku percaya sama dia, kalau pun dia cari cewek lain, it’s okey. Yang terpenting dia bahagia.” jawab Riana dengan tenang.
Jawaban yang selalu terlontar dari seorang Riana. She is so cool, and always calmly. Sometimes aku kagum padanya. Dia memang sahabatku yang paling sabar. Meski terlalu sabar.
“ Kalian nanti jadi ke rumah Riana kan?” tanya Roy
“ Tentu, kami akan datang” jawab Noi`
“ Yes that’s right” sahut aku.
“ Oh ya. Roy, kita sejalurkan, aku bisa numpang nggak?” pertanyaan Noi sempat membuatku terkejut.
“ Why, aku kan bisa jemput kamu sayang?” tanya aku sedikit heran.
“ Aduh sayang, nggak usah emosi deh. Aku tuh nggak mau ngerepotin kamu terus, makanya aku bareng Roy. Dan kamu langsung ke rumah Riana. Jadi kita nggak buang – buang waktu kan?” rayu Noi, dia selalu saja berhasil merayuku.
“ Oke, I’ll waiting for you…” kataku sebelum mencium tangannya yang mungil
“ Gitu dong sayaaang” jawab Noi sambil membelai pipiku.
Sesuai kesepakatan tadi siang, aku akhirnya berangkat kerumah Riana sendiri. Sampai disana aku disambut oleh senyum lembut yang benar-benar membuatku amazed. Riana benar – benar gadis yang sempurna.
Hampir 1 jam aku dan Riana menunggu Roy dan Noi yang belum juga datang. Aku sudah menghubungi mereka berdua, tetapi tetap saja mereka tidak kunjung datang. Aku sudah menghabiskan 3 gelas teh gara – gara mereka. Sedang Riana terlihat tenang dan nggak begitu di memikirkan.
Aku terus saja gusar, ditambah melihat ketenangan Riana, tambah gusar lagi aku. It’s make me bad mood.
“Riana, why you so calmly?!” tanyaku sedikit marah.
“ Kenapa? nggak papa kok. Sudahlah. Selama Noi masih sama Roy, dia pasti baik-baik saja kok.” jawabnya tenang
“ aku nggak bisa tenag gitu aja , Riana.” Kataku sambil mendekatkan wajahku di wajah Riana. Hal itu membuatnya terkejut. Meski begitu, dia tetap terlihat tenang.
“ Bentar lagi datang kok” jawabnya sambil mendorong wajahku dengan tangannya.
Aku masih saja menunggu Noi dan Roy sampai setengah jam. It’s make me il feel. Tapi berkat Riana, aku jadi nggak begitu jelous. Selama kami menunggu, banyak hal yang kami saling ceritakan. Dan hari itu membuatku sadar bahwa Riana bukan tipe pendiam, pemalu dan kuper. Dia ceria, tenang, seru, and she is beautiful.
“ Riana, william, I’m sorry. Aku terlambat 1 jam” Noy akhirnya datang. Dia langsung mendekati Riana dan memegang tanannya.
“ Bukan satu jam , satu setengah jam yang benar.” Kataku.
“ Ouh sayang jangan gitu dong, aku minta maaf” kata Noi sambil mencium pipiku. “ Ak..” belum selesai Noi bicara, Roy menyahut .
“ Ini bukan salah Noi kok. Aku tadi setelah pulang kuliah langsung pergi kerja, habis pulang aku istirahat sebentar. Eh ternyata aku malah ketiduran. Maafkan aku ya sayang?” Roy mendekati Riana ia bermaksud mencium pipi Riana. Tapi aku dikejutkan dengan siap Riana yang memalingkan wajahnya dari Roy.
“ Ada apa? apa kamu marah sama aku sayang?” kata Roy lembut.
“ Jangan – jangan kamu juga marah sama aku ya, Riana?” sahut Noi.
Tiba – tiba Riana memandang Roy dengan tatapan tajam. Untuk pertama kali, aku merasa takut pada Riana. Dia sungguh berbeda dari Riana yang tadi.
“ Jangan menatapku seperti itu, aku benar – benar minta maaf.” Roy merayu sambi memegang tangan Riana.
“ Baiklah “ kata Riana sambil melepaskan genggaman tangan Roy. “ Kita langsung saja mulai” ajak Riana dengan ekspresi dingin.
Semua mulai mengerjakan bagian masing – masing. Aku , Noi dan Roy sering mencuri kesempatan untuk bercanda. Kecuali….
“ Hei, Riana. Why you so serius. You have to enjoy.” Aku mencoba mengajaknya tersenyum seperti tadi. Tapi dia tidak memberi respon sama sekali. Ini membuatku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang tidak aku tahu soal temanku. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul.
“ Hei, wil. Bukankah dia selalu seperti itu. Tenang, serius, pintar dan cantik. Kenapa kau begitu heran?” kata roy.
“ What ? tapi… Eh!!” belum selesai bicara, tiba – tiba ada yang menendang kakiku. Dan ternyata Riana yang melakukannya. Dia menatapku, seakan – akan ia berkata jangan.
“ Ada apa sayang?” tanya Noi
“ Oh, tidak ada apa – apa. Tapi pacarmu itu seharusnya jangan terlalu serius. Nanti sakit loh. Kalau Riana sakit, siapa yang akan membantu pekerjaan kita ? hahaha“ candaku mencoba merubah suasana.
“ Iya yah.” sahut Noi.
Aku , Noi dan Roy, tertawa lagi.
“ dasar…” kata Riana.
Untuk sesaat Riana menahan senyumnya, tapi akhirnya ia ikut tersenyum. Jujur, saat Riana tersenyum, saat itu juga tanpa aku sadari aku terpesona olehnya. Senyum yang indah dan manis. Hehh. Mungkin aku sudah gila.
Semua pekerjaan telah selesai dan kami pulang dari rumah Riana. Masih seperti awal, Noi tidak pulang denganku melainkan dengan Roy. Aku sedikit jelous dengan hal itu.
Tanpa aku sadari, ternyata sejak tadi Riana memperhatikanku. Mungkin dia tahu apa yang aku sedang pikirkan. Meskipun yang sebenarnya aku yang berharap dia mengrti.
“ Cemburu ya?” pertanyaan Riana menyadarkanku dari lamunan.
“ Iya…” jawabku dengan wajah musam.
“ Gitu aja cemburu. Payah” ejek Riana.
“ Aku cinta mati sama Noi, makanya cemburu. Nggak seperti kamu, yang santai aja lihat Roy genit sama cewek lain. Atau jangan – jangan kamu yang nggak cinta sama Roy ?” katanyaku menyindir.
“ Memang benar” jawab Riana
Jawaban Riana sontak membuatku terkejut. Dilihat dari ekspresi wajahnya, dia sedang tidak bercanda. Apa maksudnya, saat itu aku sungguh tidak mengerti.
“ Why ? don’t kidding Riana. Itu nggak lucu”
“ Siapa bilang itu lucu ?” tanya Riana sambil mendekatkan wajahnya.
“ Kamu seriusan ya? tapi kenapa? Selama ini kalian baik – baik saja kan?”
“ Itu menurutmu. Apa kau ingin tahu apa yang sebenarya terjadi?”
Aku tidak menjawabnya, aku hanya menganggukkan kepala. Aku semakin penasaran pada Riana.
“ Sebaiknya kau ikuti mereka berdua. Kau tidak hanya menemukan jawaban atas pertanyaanmu tadi, tapi kau juga akan menemukan kebenaran. Dan saat itu aku harap kau tidak punya penyakit jantung.”
“ What’s . Aku sungguh tidak mengerti”
“ Cobalah dulu, nanti kalau kau sudah menemukan jawabannya, segera telpon aku. Oke?”
Belum sempat aku bertanya lagi, Riana meninggalkanku di luar rumahnya. Aku sungguh dibuat bingung oleh kata-kata Riana. Aku semakin penasaran. What’s wrong with my best friend, pertanyaan itu yang mulai menekanku.
Aku mulai mengikuti mobil Roy yang sebenarnya sudah agak jauh di depanku. dan...





wah... cerita belum selesai kawan, mau tau kelanjutannya...??? ikuti terus novel Apparently, I Love You hanya di sini

puisi

alam menghibur

Berhenti di satu titik
Pandang alam melingkari
Sejuk angin menghembus
Tak muncul rasa jenuh
Sendiri jadi tak berarti
Kicauan burung menemani
Pesonanya alam berpadu
Berpadulah tertawalah aku

puisi

muslimah...

bak mawar berduri
itulah muslimah zaman kini
indahnya mewakili surgawi
bak mawar berduri
tak sembarang disentuh lelaki
atau neraka akan menanti
bak mawar berduri
keindahannya dilindungi
dilindungi aturan qur'an hadits
bak mawar berduri
ada teknik untuk memiliki
tak sembarang orang bisa memetik