Sabtu, 28 Mei 2016

novel romance (lanjutan)

Apparently, I Love You #part 2

“ Cobalah dulu, nanti kalau kau sudah menemukan jawabannya, segera telpon aku. Oke?”
Belum sempat aku bertanya lagi, Riana meninggalkanku di luar rumahnya. Aku sungguh dibuat bingung oleh kata-kata Riana. Aku semakin penasaran. What’s wrong with my best friend?, pertanyaan itu yang mulai menekanku.
Aku mulai mengikuti mobil Roy yang sebenarnya sudah agak jauh di depanku. Aku berusaha untuk bisa mendekatinya dan mengikutinya. Dan akhirya mobil Roy berhenti di sebuah café. Aku mulai bertanya – tanya, apa yang mereka lakukan di sini.
Mulai timbul kecurigaan di benakku saat Roy keluar dan membukakan pintu mobil untuk Noi, di tambah Roy yang memegang tangan Noi dan menciumnya. Tapi kecurigaan itu aku tangkis begitu saja karena aku tahu Roy memang genit.
Aku terus mengikuti mereka sampai mereka duduk di tempat duduk dekat jendela. Aku memperhatikan semua percakapan mereka. Dan sampai…
“ Sampai kapan kita akan seperti ini terus sayang? aku sudah tidak sabar lagi ingin menyentuhmu dengan leluasa.”
“ Kamu sabar dulu lah. Sebentar lagi aku udah akan berhasil mendapatkan mobil dari William. Sabar ya?”
Mobil? Apa maksudnya. Aku semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Riana apa yang sebenarnya terjadi? Aku mulai dibuat gelisah dengan pertanyaan–pertanyaanku sendiri.
“ Begitu ya?” kata Roy sambil mencium tangan Noi.
“ Setelah aku berhasil, aku akan segera mencari alasan untuk putus dengan William dan kau juga harus segera putus dengan wanita itu.” jawab Noi sambil membelai rambut Roy.
Mendengar itu semua tubuhku serasa disambar petir. Rasanya semua bercampur aduk di dalam hatiku. Apa maksudnya? benarkah semua yang aku dengar? atau mereka hanya latihan drama? meraka kan sama–sama dari teater? apakah mungkin wanita yang selama ini aku cintai menghianatiku dengan begitu kejam? apakah mungkin sahabatku yang selama ini aku percaya, juga tega menusukku dari belakang? pertanyaan demi pertanyaan tidak henti–hentinya berputar di kepalaku.
Aku keluar dari tempat itu dengan tubuh lemas. Aku mengendarai mobilku menuju taman dekat rumah Riana. Aku masih tidak percaya dengan semua yang terjadi tadi. Di satu sisi aku merasa dihianati tapi disisi lain aku menyangkal semua yang terjadi.
Sampai di taman aku ingat kata–kata yang diucapkan Riana. Aku meraih handphone-ku dan mencoba untuk menghubungi Riana.
“ Hallo, Riana. Aku ada di taman. Bisakah kau ke sini?”
Riana menutup telfonnya tanpa mengatakan apapun. Mungkin dia sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan.
Tak lama Riana pun datang, dia berhenti tepat didepanku. Dia tidak berkata apa–apa dan hanya menghela nafas panjang. Sedang aku mulai meneteskan air mata. Melihatku seperti itu Riana mendekatiku dan memelukku. Bukannya malah diam saat di pelukannya, aku malah benar–benar menangis. Ya, menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
“ Apakah kau juga sesakit ini saat mengetahui semua ini?” tanyaku masih dalam pelukan Riana.
“ Hem” jawabnya tenang.
“ Bagaimana kamu bisa sekuat ini?” tanyaku dan tangisku semakin menjadi.
“ Karena dia bukan satu–satunya lelaki di dunia ini.”
“ And, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?”
“ Karena aku tau, kau tidak akan percaya padaku. Dan hal ini adalah hal penting yang harus kamu ketahui sendiri.”
Hampir satu jam aku menangis dalam pelukannya seperti anak kecil. Aku tidak sadar bahwa aku sangat memalukan saat itu. Selamaaku menangis Riana sama sekali tidak berkomentar, dia terus menemaniku sampai aku berhenti menangis.
Malam itu pun aku menginap di rumah Riana. Ibu Riana mengijinkanku menginap tanpa mengatakan sepatah katapun. Mungkin beliau sudah tau apa yang terjadi padaku. Bagaimana mungkin tidak, semua orang juga pasti tahu apa yang terjadi jika melihat wajahku yang sembab. Memalukannya.
“ Kau sudah bangun?” Tanya Riana padaku.
“Ah, Iya” jawabku sambil menuruni tangga.
“ Eh, nak William. Sudah bangun? sarapan yuk?” ajak ibu Riana padaku.
“ Iya, tante. Terimakasih. Maaf merepotkan.” jawabku sambil duduk.
“ Nggak merepotkan kok. Biasa saja.” jawab Riana.
“ Apakah nak Will sudah baikan?” Tanya ibu Riana padaku.
“ Iya tante, saya sudah agak baikan. Em, Riana, apakah kau nanti kuliah?”
“ Em…” jawab Riana sambil menganggukan kepala.
“ Kita barengan saja ya?” aku berusaha merayu.
“ Tidak mau. Dari kemarin saja kau belum ganti baju. Baumu sungguh mengganggu.”
“ Jangan begitu, Riana. Bagaimana kalau nak William pakai baju milik ayah Riana?” tanya ibu Riana.
“ Tidak usah tante, terima kasih. Di mobil ada baju kok”
“ Owh , ya sudah kalau begitu.” Ibu Riana melanjutkan makannya.
“ Iya tante”
“ Bu, jangan meminjamkan baju ayah ke dia,,,”
Aku bingung dengan pernyataan Riana.
“ memangnya kenapa Na?” Tanya ibu riana.
“ Dia itu jorok bu, nanti kalau dia nangis lagi, terus baju ayah buat usap, gimana?”
“ what???!!!” aku spontan.
“ riana nggak boleh gitu… hahaha” Ibu Riana tertawa.
Riana tidak menjawab pernyataan dari ibunya, dia hanya tersenyum dan melanjutkan sarapannya.
“ Aku baru tahu, kalau kamu cewek yang menyebalkan. Huh “ kataku sambil membuang muka
“ Baru tahu ya… kasian…”
“Hahaha” kami bertiga tertawa
Setelah menghabiskan sarapan, aku berangkat kuliah dengan Riana. Saat berada dalam mobil, tidak ada satupun dari kami yang mengeluarkan sepatah katapun. Aku masih memikirkan kejadian malam itu. Sedangkan Riana, entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang ku tahu dia memang lebih suka diam saat di dalam mobil.
Lima belas menit berlalu, akhirnya kami sampai di kampus. Saat itu aku merasa ada hal yang aneh. Entah hanya perasaanku saja atau ada sesuatu yang lain. Tapi yang pasti aku gelisah.
“ Apakah kau akan baik–baik saja?” Tanya Riana setelah keluar dari mobil.
“ Aku akan mencoba untuk baik–baik saja.” jawabku.
“ Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan mereka berdua nanti?“ Tanya Riana sambil mendekatkan wajahnya.
“ I don’t know.”
“ Okey. Kau harus segera memikirkanya.”
“ I know. But…”
“ William” belum selesai aku menjawab pertanyaan Riana, Noi memanggilku.
“ Noi?!” aku terkejut.



wah... cerita belum selesai kawan, mau tau kelanjutannya...??? ikuti terus novel Apparently, I Love You hanya di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar