Kamis, 26 Mei 2016

novel romance

Apparently, I Love You

Sebenarnya kisah ini sudah terlalu lama unuk diceritakan. Kisah yang berawal dari hubungan pertemanan yang….. ya bisa dikatakan membingungkan, rumitlah…
“ Hai, Roy?!” aku berjalan menuju meja, di mana sahabatku Roy dan Riana duduk.
“Hei, bro!” jawab Roy.
“ Riana, apa kabar?” Noi pacarku menyapa Riana, pacar Roy
“ Kok nggak cipika cipiki sama aku juga? selalu sama Riana aja” kata Roy sambil memasang wajah cemberut. Sahabatku Roy memang sedikit genit.
“ Kamu mau ? sini aku cium pipi kamu.” Jawab Noi sambil mendekatkan wajahnya pada Roy.
Aku sempat dag dig dug saat itu. Tapi ternyata Noi bukan mencium pipi Roy, melainkan membelokkan bibir merahnya ke pipiku. Aku terkejut sekali juga senang sekali.
“ Kau ini, selalu saja.” kata Riana pada Roy.
Riana beda dengan pacarku. Dia pendiam, tenang, dan tidak marah sama sekali meski Roy, pacarnya bersikap genit pada gadis-gadis lain.
“ Riana, kenapa kamu tenang – tenang saja saat pacarmu ini genit pada cewek lain. You have to angry with him.” kataku sambil melempar kacang pada Roy.
“ No, I can’t. Aku percaya sama dia, kalau pun dia cari cewek lain, it’s okey. Yang terpenting dia bahagia.” jawab Riana dengan tenang.
Jawaban yang selalu terlontar dari seorang Riana. She is so cool, and always calmly. Sometimes aku kagum padanya. Dia memang sahabatku yang paling sabar. Meski terlalu sabar.
“ Kalian nanti jadi ke rumah Riana kan?” tanya Roy
“ Tentu, kami akan datang” jawab Noi`
“ Yes that’s right” sahut aku.
“ Oh ya. Roy, kita sejalurkan, aku bisa numpang nggak?” pertanyaan Noi sempat membuatku terkejut.
“ Why, aku kan bisa jemput kamu sayang?” tanya aku sedikit heran.
“ Aduh sayang, nggak usah emosi deh. Aku tuh nggak mau ngerepotin kamu terus, makanya aku bareng Roy. Dan kamu langsung ke rumah Riana. Jadi kita nggak buang – buang waktu kan?” rayu Noi, dia selalu saja berhasil merayuku.
“ Oke, I’ll waiting for you…” kataku sebelum mencium tangannya yang mungil
“ Gitu dong sayaaang” jawab Noi sambil membelai pipiku.
Sesuai kesepakatan tadi siang, aku akhirnya berangkat kerumah Riana sendiri. Sampai disana aku disambut oleh senyum lembut yang benar-benar membuatku amazed. Riana benar – benar gadis yang sempurna.
Hampir 1 jam aku dan Riana menunggu Roy dan Noi yang belum juga datang. Aku sudah menghubungi mereka berdua, tetapi tetap saja mereka tidak kunjung datang. Aku sudah menghabiskan 3 gelas teh gara – gara mereka. Sedang Riana terlihat tenang dan nggak begitu di memikirkan.
Aku terus saja gusar, ditambah melihat ketenangan Riana, tambah gusar lagi aku. It’s make me bad mood.
“Riana, why you so calmly?!” tanyaku sedikit marah.
“ Kenapa? nggak papa kok. Sudahlah. Selama Noi masih sama Roy, dia pasti baik-baik saja kok.” jawabnya tenang
“ aku nggak bisa tenag gitu aja , Riana.” Kataku sambil mendekatkan wajahku di wajah Riana. Hal itu membuatnya terkejut. Meski begitu, dia tetap terlihat tenang.
“ Bentar lagi datang kok” jawabnya sambil mendorong wajahku dengan tangannya.
Aku masih saja menunggu Noi dan Roy sampai setengah jam. It’s make me il feel. Tapi berkat Riana, aku jadi nggak begitu jelous. Selama kami menunggu, banyak hal yang kami saling ceritakan. Dan hari itu membuatku sadar bahwa Riana bukan tipe pendiam, pemalu dan kuper. Dia ceria, tenang, seru, and she is beautiful.
“ Riana, william, I’m sorry. Aku terlambat 1 jam” Noy akhirnya datang. Dia langsung mendekati Riana dan memegang tanannya.
“ Bukan satu jam , satu setengah jam yang benar.” Kataku.
“ Ouh sayang jangan gitu dong, aku minta maaf” kata Noi sambil mencium pipiku. “ Ak..” belum selesai Noi bicara, Roy menyahut .
“ Ini bukan salah Noi kok. Aku tadi setelah pulang kuliah langsung pergi kerja, habis pulang aku istirahat sebentar. Eh ternyata aku malah ketiduran. Maafkan aku ya sayang?” Roy mendekati Riana ia bermaksud mencium pipi Riana. Tapi aku dikejutkan dengan siap Riana yang memalingkan wajahnya dari Roy.
“ Ada apa? apa kamu marah sama aku sayang?” kata Roy lembut.
“ Jangan – jangan kamu juga marah sama aku ya, Riana?” sahut Noi.
Tiba – tiba Riana memandang Roy dengan tatapan tajam. Untuk pertama kali, aku merasa takut pada Riana. Dia sungguh berbeda dari Riana yang tadi.
“ Jangan menatapku seperti itu, aku benar – benar minta maaf.” Roy merayu sambi memegang tangan Riana.
“ Baiklah “ kata Riana sambil melepaskan genggaman tangan Roy. “ Kita langsung saja mulai” ajak Riana dengan ekspresi dingin.
Semua mulai mengerjakan bagian masing – masing. Aku , Noi dan Roy sering mencuri kesempatan untuk bercanda. Kecuali….
“ Hei, Riana. Why you so serius. You have to enjoy.” Aku mencoba mengajaknya tersenyum seperti tadi. Tapi dia tidak memberi respon sama sekali. Ini membuatku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi, apa yang tidak aku tahu soal temanku. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul.
“ Hei, wil. Bukankah dia selalu seperti itu. Tenang, serius, pintar dan cantik. Kenapa kau begitu heran?” kata roy.
“ What ? tapi… Eh!!” belum selesai bicara, tiba – tiba ada yang menendang kakiku. Dan ternyata Riana yang melakukannya. Dia menatapku, seakan – akan ia berkata jangan.
“ Ada apa sayang?” tanya Noi
“ Oh, tidak ada apa – apa. Tapi pacarmu itu seharusnya jangan terlalu serius. Nanti sakit loh. Kalau Riana sakit, siapa yang akan membantu pekerjaan kita ? hahaha“ candaku mencoba merubah suasana.
“ Iya yah.” sahut Noi.
Aku , Noi dan Roy, tertawa lagi.
“ dasar…” kata Riana.
Untuk sesaat Riana menahan senyumnya, tapi akhirnya ia ikut tersenyum. Jujur, saat Riana tersenyum, saat itu juga tanpa aku sadari aku terpesona olehnya. Senyum yang indah dan manis. Hehh. Mungkin aku sudah gila.
Semua pekerjaan telah selesai dan kami pulang dari rumah Riana. Masih seperti awal, Noi tidak pulang denganku melainkan dengan Roy. Aku sedikit jelous dengan hal itu.
Tanpa aku sadari, ternyata sejak tadi Riana memperhatikanku. Mungkin dia tahu apa yang aku sedang pikirkan. Meskipun yang sebenarnya aku yang berharap dia mengrti.
“ Cemburu ya?” pertanyaan Riana menyadarkanku dari lamunan.
“ Iya…” jawabku dengan wajah musam.
“ Gitu aja cemburu. Payah” ejek Riana.
“ Aku cinta mati sama Noi, makanya cemburu. Nggak seperti kamu, yang santai aja lihat Roy genit sama cewek lain. Atau jangan – jangan kamu yang nggak cinta sama Roy ?” katanyaku menyindir.
“ Memang benar” jawab Riana
Jawaban Riana sontak membuatku terkejut. Dilihat dari ekspresi wajahnya, dia sedang tidak bercanda. Apa maksudnya, saat itu aku sungguh tidak mengerti.
“ Why ? don’t kidding Riana. Itu nggak lucu”
“ Siapa bilang itu lucu ?” tanya Riana sambil mendekatkan wajahnya.
“ Kamu seriusan ya? tapi kenapa? Selama ini kalian baik – baik saja kan?”
“ Itu menurutmu. Apa kau ingin tahu apa yang sebenarya terjadi?”
Aku tidak menjawabnya, aku hanya menganggukkan kepala. Aku semakin penasaran pada Riana.
“ Sebaiknya kau ikuti mereka berdua. Kau tidak hanya menemukan jawaban atas pertanyaanmu tadi, tapi kau juga akan menemukan kebenaran. Dan saat itu aku harap kau tidak punya penyakit jantung.”
“ What’s . Aku sungguh tidak mengerti”
“ Cobalah dulu, nanti kalau kau sudah menemukan jawabannya, segera telpon aku. Oke?”
Belum sempat aku bertanya lagi, Riana meninggalkanku di luar rumahnya. Aku sungguh dibuat bingung oleh kata-kata Riana. Aku semakin penasaran. What’s wrong with my best friend, pertanyaan itu yang mulai menekanku.
Aku mulai mengikuti mobil Roy yang sebenarnya sudah agak jauh di depanku. dan...





wah... cerita belum selesai kawan, mau tau kelanjutannya...??? ikuti terus novel Apparently, I Love You hanya di sini

2 komentar: